Sebelum Indonesia berdiri sebagai negara, Nusantara telah memiliki sistem pendidikan yang berkembang pesat live baccarat online di bawah kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit. Kedua kerajaan ini tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan dan politik, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan keilmuan yang menarik perhatian para cendekiawan dari berbagai belahan dunia. Dari sistem pendidikan berbasis agama di Sriwijaya hingga perkembangan intelektual di Majapahit, era ini menorehkan jejak penting dalam sejarah pendidikan di Nusantara.
1. Pendidikan di Era Sriwijaya: Pusat Keilmuan Buddhis di Asia Tenggara
Sriwijaya (abad ke-7 hingga ke-13) dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Buddhis terbesar di dunia. Kerajaan maritim yang berpusat di Sumatra ini menjadi magnet bagi para pelajar dan biksu dari berbagai negara, terutama dari India, Tiongkok, dan kawasan Asia Tenggara lainnya.
- Universitas Nalanda dari Nusantara
Salah satu keunggulan Sriwijaya adalah keberadaannya sebagai pusat pendidikan Buddhis yang bisa disamakan dengan Universitas Nalanda di India. Biksu-biksu dari berbagai negara datang ke Sriwijaya untuk belajar ajaran Buddha, filsafat, dan bahasa Sanskerta. Catatan dari pendeta Tiongkok, I-Tsing, menyebutkan bahwa Sriwijaya adalah tempat yang ideal untuk belajar sebelum melanjutkan pendidikan ke India. - Kurikulum Pendidikan
Pendidikan di Sriwijaya berfokus pada ajaran Buddhisme Mahayana dan Vajrayana, tetapi juga mencakup ilmu lain seperti tata bahasa, filsafat, sastra, dan astronomi. Bahasa Sanskerta menjadi bahasa pengantar utama dalam pendidikan. - Peran Raja sebagai Pelindung Pendidikan
Raja Sriwijaya, seperti Balaputradewa, sangat mendukung perkembangan pendidikan dengan menjalin hubungan akademik dengan pusat-pusat keilmuan di India. Banyak biksu Sriwijaya yang dikirim ke India, dan sebaliknya, biksu India yang datang untuk mengajar di Sriwijaya.
2. Pendidikan di Era Majapahit: Integrasi Keilmuan dan Kearifan Lokal
Majapahit (abad ke-13 hingga ke-15) merupakan kerajaan besar yang dikenal dengan struktur pemerintahan yang kompleks serta perkembangan kebudayaan dan pendidikan yang pesat. Berbeda dengan Sriwijaya yang berfokus pada pendidikan Buddhis, Majapahit lebih inklusif dan mengakomodasi berbagai ajaran, termasuk Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal.
- Pendidikan di Kalangan Bangsawan dan Rakyat
Pendidikan di Majapahit dibagi menjadi dua kelompok utama: pendidikan bagi kalangan bangsawan dan pendidikan untuk masyarakat umum.- Bangsawan: Para putra dan putri kerajaan serta pejabat tinggi menerima pendidikan dalam bidang strategi perang, administrasi pemerintahan, hukum, dan kesusastraan.
- Rakyat Umum: Pendidikan lebih berfokus pada keterampilan praktis seperti pertanian, perdagangan, dan seni.
- Ajaran Kitab Kuno
Majapahit melahirkan banyak karya sastra dan filsafat, seperti Negarakertagama karya Mpu Prapanca dan Sutasoma karya Mpu Tantular. Kitab-kitab ini tidak hanya berisi sejarah, tetapi juga filosofi hidup dan konsep kesatuan dalam keberagaman (Bhinneka Tunggal Ika). - Pendidikan Berbasis Pesantren Hindu-Buddha
Sistem pendidikan di Majapahit banyak dilakukan melalui padepokan atau mandala, yang mirip dengan pesantren saat ini. Para siswa belajar berbagai ilmu di bawah bimbingan seorang guru spiritual (resiguru), dengan materi yang meliputi filsafat Hindu-Buddha, ilmu politik, dan strategi perang.
3. Pengaruh Sriwijaya dan Majapahit terhadap Pendidikan Nusantara
Meskipun kedua kerajaan ini akhirnya runtuh, warisan pendidikan mereka tetap hidup dalam budaya dan sistem pendidikan di Nusantara.
- Jejak Pendidikan di Kerajaan-Kerajaan Setelahnya
Model pendidikan berbasis padepokan di Majapahit berlanjut ke era kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak dan Mataram Islam dalam bentuk pesantren. Sedangkan pengaruh keilmuan Buddhis Sriwijaya tetap terasa di wilayah Sumatra dan Asia Tenggara. - Peninggalan Sastra dan Filsafat
Naskah-naskah peninggalan dari kedua kerajaan ini menjadi sumber referensi penting bagi perkembangan pemikiran di Nusantara. Kitab-kitab seperti Negarakertagama dan Sutasoma masih dipelajari hingga kini.
Kesimpulan
Era Sriwijaya dan Majapahit membuktikan bahwa pendidikan telah menjadi bagian penting dalam peradaban Nusantara jauh sebelum era modern. Sriwijaya dikenal sebagai pusat pendidikan Buddhis yang menarik pelajar dari mancanegara, sementara Majapahit mengembangkan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berbasis kearifan lokal. Kedua kerajaan ini tidak hanya menjadi pusat ilmu di zamannya, tetapi juga mewariskan konsep pendidikan yang masih berpengaruh hingga kini.